Jumat, 06 Januari 2017

NESTAPA SAKITMU ADALAH LADANG AMALMU

Oretan tak beraturan ini, ditulis saat diri ini memasuki pengobatan enam bulan Terapi Kusta. dan Alhamdulillah kini, telah memasuki sebelas bulan, kesemutan disetiap syaraf tepi yang selalu menemani dalam hari hariku mulai menghilang, wajah lebam hitam sudah mulai menunjukan kesembuhan. Tulisan berikut adalah motivasi untuk diri sendiri, yang insyaAllah berhasil melewati proses pengobatan penyakit yang dianggap menjijikan oleh sebagian orang. Ternyata bahagia itu sederhana. Yaitu menggantung sepenuhnya hidup hanya kepada Allah(Aqidah yang bersih) lalu perbiasakanlah satu kaidah sederhana "Tersenyum dan tertawalah maka kamu akan bahagia jangan menunggu bahagia dahulu baru tertawa".  

Rahmat Abd Fatah
Fitu.01/08/2016.

Lelaki mungil yg kian menghitm itu terus meniti rasa oleh rindu yg tak menyahut,larut terbawa binarnya surya lalu senja & begitulh terus berputar oleh irama sang waktu.
sering terdengar ucap"betapa bahagianya sehat saat kau dirundung sakit". Dalm pada itu kau ingin memulangkan kenang diceruk sunyi.itulah sang waktu.nestapa yg hadir disukma sakitmu mengajakmu menghargainya dan ah..masih sama suda 6 buln berlalu tapak kaki si mungil hitam itu belum tergerus angin masi diperaduannya menjalani titah sang dokter & abahnya"jangan seharipun kau tinggalkn obat,itu masa depan kau,istri & anakmu". Semoga Kilau menabur sejuta rasa seiring putarn sang waktu agar pilu tak kembali terasa.


Si hitam mungil itu masi terus bergumam.hmm..Sang waktu memang penuh misteri.Qit tida slalu tau & sadar betapa ia seringkli telah terlewati ratusan ribu mill jauhnya tanpa kita sempat mengisinya. kita hanya sering memfirasatinya begitupn tergantung dari ruang mana sebab firasat itu berada. Martin Heideger lalu bertutur "kita betul2 berenang dlm kolam waktu,bukan cuma mengikuti arusnya". filsuf Jerman lainnya Hendry Bergson menyebutnya dg waktu kuantitatif yg dilakoni oleh setiap kita dlm keseharian tetapi sering abai pd waktu kualitatif yg disebut Hendry dg durre. dimana ia berkelindan pd wilayah subjektif psikologis sebag penglmn eksistensialis yg tertuntun oleh mental,emosi,bahkn ranah sukma spritual Qit yg terdalm.

Dan entahlah apa yg dirasa lelaki hitam mungil itu,tatap pandangnya sesemburat surya mewarnai angkasa sambil membuka notes sahabat hariannya. tertulis apik bahwa"saat kau sehat putaran sang waktu menyambr bagai kilat,tak terekam oleh binar mata,lalu ketika abai pd sukma hikmah sakitmu.Sang waktupun datang bagai kilat merampas bahagiamu,tergeletak tak berdaya tak bernyawa.Begitupun kala sakit,sang waktu terasa bag anak bayi yg belajar menapaki jejalanan,lamban terasa lamban.

Dipucuk itulah seorang ulama Sufi,intelektual,pejuang. Syeh Badiuzzaman Said Nursi menuntun si hitam mungil itu memahami secercah cahaya kearifan dari mata air kearifan Illahi dlm karya monumentalnya Risalah An-Nur.
Syeh Nursi bertutur"Tuk org2 yg tengah dirundung penyakit...percayalh tatkala penyakit merengkuhmu,sang Malaikat tersenyum bahagia sedangkn iblis nangis berduka,namun saat sehat menyambangimu,aku hawatir malaikat2 itu meratap duka sedang iblis tertawa gembira"Syeh Nursi terus menutur"Sungguh kehidupn manusia baru menjadi murni bila ia dirundung musibah & ujian. dg begitu wajah kehidupan telah menunaikn tugas kehidupannya...sebaliknya kehidupn yg hanya bertemn kesenngn & kemewahn,serta hanya brgembira di ats ranjang kenikmatn yg jauh dari rintangan & tantangn merupkn potret khidpn yg lebih dekat pd ketiadaan sebag keburukan murni ketimbang eksistensi keberadaan sebag kebajikan murni".

Disinilah penting membangun muara introspeksi kontemplatif diri Kata Syeh Nursi. "Apakah kau telah mengukir waktu2mu sebelum ini dg aneka kebajikan & pengabdian,sudahkah juga reda dg puspa ragam kearifan & ketaatan ata mala kau rajut dg berbagai kelalaian & kemaksiatan?.

Kalimah2 di ats keluar dari lisan Syeh Nursi ketika memaknai penyakit yg dialami Nabi Ayub as. Sang Nabi yg belakngn menjadi sumber inspirasi keteduhn Si mungil hitam itu. Dari Sang Nabi penyabar & Syeh Nursi itupula, si hitam mungil itu terus belajar menyelami aforisma kesabaran dlm sakit,sedih & kesendirian dlm riang. "sesungguhnya kami dapati dia (Ayub) seorang yg sabar,dialah sebaik-baik hamba,sesungguhnya dia amat taat kepad TuhanNya(QS.Shad:44). Sang Nabi Penutup para Nabipun bersabda"Jika Allah menurnkn ujian kpd seorg hamba yg beriman kpd suatu ujian penyakit pd tubuhnya,maka Allah memerinthkn pd Malaikatnya;Catatlh amal kebajikn untuknya,jika Allah menyembuhkn hamba itu maka dia telah membersihkn & menyucikn segal kesalahannya & bila hamba itu meninggal dunia, maka dia juga telah mengampuni dosa2nya & memberkn rahmat kepdnya(HR.Ahmad).
Wahai saudara yg sedang diselemuti kenestapaan hidup,janganlh slaly kau mengeluhkn penyakitmu yg bisa mengantarkn satu detik kesengsaraan itu setara dg seribu menit ibadah,serta menyebabkn umurmy bertmb panjang.Karenanya bersukurlah atas anugrah sakit yg dititipkan sejenak kepadmu.Demikian Nasehat Syeh Nursi.
Enam bulan berlalu sat aforisma hidup Syeh Nursi & Sang Nabi penyabar Ayub as mengalir menuntun disetiap aliran darah si mungil yg kian hitam itu. Namun begitulah manusia yg masi menapaku anak tangga pembelajrn hidupnya,pelukan kuat iman dikala badai masih selalu naik turun,semoga saban hari tak bermuram durja & dibinari slalu oleh binar cahaya Illahi. "Demi masa. Manusia berda dlm kerugian, kecuali orang2 yg berimn & yg mengerjkn amal shaleh & nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran & menetapi kesabarn(QS.Al-Asr).
Mari saling menguatkn utama kpd lelaki mungil yg kian hitam itu agar lulus dlm ujian kepasrahn ketundukan di eratnya dekapan badai. Jika tak ada aral melintang & di izabah oleh pemilik sang Hizab waktu, terapi lelaki hitam mungil itu 12 s/d 18 bulan & kini telah 6 bln dilaluinya begitulh sang dokter memperkirakannya. Semoga lelaki hitam itu dapat bijaki sang waktu meraih permata di dasar sukma sakitnya. karena yg sakit sebagaimn lelaki hitam itu terkadang gagal menyibak tirai hikmah & membuka misteri kasih sayang ilahi yg berada dibalik penyakitnya.
Maka Syeh Nursi kembali mengaliri keteduhan dg kearifan kepadanya agar dapt melihat orang2 yg jauh lebih menderita darinya. "Apabila kau terluka lihatlah orang2 yg tangannya terputus,bila kehilangn 1 mata lihatlh kpd orang yg kehilngn kedua matanya sehingga engkau dpt bersyukur...sekiranya tak ada gelap manusia tidak akan mengenl cahaya & tidak mengetahui nikmat lenteranya,jika tak ada rasa lapar,niscaya manusia tak bisa meraskn nikmatnya makanan,jika tak ada dahaga niscaya manusia tak merasakn nikmatny meminum air & andai penyakit tak kunjung mengunjungi manusia, niscaya manusia tak meraskn nikmatnya sehat".

Kepada lelaki mungil yg kian menghitam itu Syeh Nursi menutup Hikmah sakit dg memotivasi & meyakinkannya "jika dalm sakit tak tersimpan makna keindahan cinta Allah kpd hamba pilihannya.Kenapa Dia menguji kekasih tercintanya Nabi Ayub as, dg penyakit yg tiada bandingannya?bila dalm bala tak tersembunyi lembutnya rahmat ilahi,bagaiman kita bisa tafsirkan ribuan bahkn jutaan wali2walinya yg kehidupan mereka tak pernah sunyi dari bermacm ujian,kepayahan,penyakit,penderitaan & prahara kehidupan? semoga dg aliran bening kearifan di atas,lelaki yg kian hitam oleh efek obat terapi itu kembali menabur sejuta rasa bahagia oleh hikmah sukma sakitnya agar cahaya ilahi semakin menerangi binar cahaya dikedalaman jiwanya.Semoga...!

Jazakillah, Istri tercinta. istri simungil hitam atas ikhlas sabarnya, Bahkan tak sempat nadiQoe mengeja tanya,dekapanmu semakin erat dikala badai menerp sumsum imammu ini.Semog bulir rasa kembali terasa bersama saat dipan-dipan sebab keterlenaan dunia menyelubungi kita kelak.


Tidak ada komentar: